Tampilkan postingan dengan label All About Learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label All About Learning. Tampilkan semua postingan
0
Materi AKHLAK KELAS XI | jika ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi, jika ada umur panjang boleh kita berjumpa lagi.... welah kok malah ngaco.... ok temen-temen, bagi siapa yang ingin materi pelajaran akhlak kelas XI silahkan DOWNLOAD disini!!
readmore »
0
ASAS DAN LANDASAN-LANDASAN PENDIDIKAN |

  1.        Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak darisejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah


1.1. Landasan Agama


Berdasarkan keyakinan kita, agama merupakan wahyu Allah SWT, yang diturunkan untuk menjadi landasan hidup manusia sampai akhir zaman. Oleh karena itu, agama harus menjadi landasan pendidikan. Melalui pendidikan sebagai proses pemberdayaan SDM yang berlandaskan agama bangsa Indonesia dapat menikmati hidup yang damai, sejahtera, adil dan makmur.


1.2. Landasan Filsafat


Pendidikan sebagai suatu proses kegiatan pemberdayaan manusia menjadi SDM yang berkualitas, harus dilandasi oleh sifat dan sikap yang arif serta bijaksana. Sifat dan sikap yang demikian, selain terbina dari pengalaman serta pendidikan, juga berasal dari hasil ‘perenungan’ melalui pemikiran yang mendalam tentang hal-hal yang baik yang dipertentangkan dengan hal buruk, kejujuran dengan kebohongan, dan seterusnya. Proses perenungan dan berpikir secara mendasar serta mendalam tadi, dikategorikan sebagai ‘berfilsafat’.


Pendidikan sebagai proses kegiatan pemberdayaan peserta didik menjadi SDM yang manusiawi, secara mendasar, harus dilandasi oleh nilai-nilai filsafat yang meyakinkan. Nilai-nilai filsafat tersebut meliputi makna-makna tentang alam, kehidupan, ilmu, moral, sampai pada agama dan Ketuhanan. Dengan demikian landasan filsafat dengan landasan agama pada kenyataanya sukar dipisahkan satu sama lain.


Pasal 2 UU-RI No. 2 Tahun 1989 menetapkan bahwa Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Rincian selanjutnya tentang hal tersebut tercantum dalam penjelasan UU-RI No. 2 Tahun 1989, yang menegaskan bahwa pembangunan nasional temasuk di bidang pendidikan adalah pengamalan Pancasila, dan untuk itu pendidikan nasional mengusahakan antara lain: “Pembentukan manusia Pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri”. (Undang-Undang, 1992: 24)


1.3. Landasan Moral


Landasan moral (akhlak) dalam proses kegiatan pendidikan, merupakan salah satu ‘kunci keberhasilan’ membina, memberdayakan, dan ‘menciptakan’ SDM yang berkualitas, terutama kualitas akhlaknya. Peletakan landasan moral ini sangat strategis dan bermakna, karena kepribadian individu harus berakar pada ‘akhlak mulia’ yang sudah pasti membawa kebahagiaan bagi yang bersangkutan.


1.4. Landasan Sosiologi


Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi:





  1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.




  2. Hubungan kemanusiaan di sekolah.




  3. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.




  4. Sekolah dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok social lain di dalam komunitasnya.




1.5. Landasan Kultural


Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan, utamanya belajar. Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud:





  1. Ideal seperti ide, gagasan, nilai, dan sebagainya.




  2. Kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.




  3. Fisik yakni benda hasil karya manusia.




(Koentjaraningrat, 1975: 15-22)


Pada sekolah yang sudah maju, sekolah sebagai lembaga sosial mempunyai peranan yang sangat penting sebab pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mentransmisi kenudayaan kepada generasi penerus, tetapi juga berfungsi untuk mentransformasikan kebudayaan agar sesuai dengan perkembangan dan tujuan zaman.


1.6. Landasan Psikologis


Pemahaman peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapanya dalam bidang pendidikan, mialnya pengetahuan tentang aspek-aspek pribadi, urutan, dan ciri-ciri pertumbuhan setiap aspek, dan konsep tentang cara-cara paling tepat untuk mengembangkanya.


1.7. Landasan Ilmiah dan Teknologis


Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mempunyai kaitan yang sangat erat. Seperti diketahui, IPTEK menjadi bagian utama dalam isi pengajaran; dengan kata lain, pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan IPTEK. Di sisi lain, setiap perkembangan IPTEK harus segera diakomodasi oleh pendidikan yakni dengan segera memasukan hasil pengembangan IPTEK itu ke dalam isi bahan ajaran.





  1. ASAS-ASAS PENDIDIKAN




Pada Undang-Undang Republik Indonesia No. 2/1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II, pasal 4, tercantum sebagai berikut:


Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.


Manusia ‘ideal’ menurut Sistem Pendidikan Nasional Indonesia yaitu ‘manusia Indonesia seutuhnya’ yang bobot karakternya dicirikan oleh iman dan taqwa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap serta mandiri, cerdas, berpengetahuan dan terampil, sehat jasmani serta rohani, dan memiliki tanggung jawab kemasyarakatan serta kebangsaan.


2.1. Asas Belajar Sepanjang Hayat


Perubahan perilaku individu pada umumnya berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan. Proses kematangan mulai dari masa bayi hingga dewasa sampai tua, berlangsung terus menerus sesuai dengan perkembangan mental, psikologis, spiritual masing-masing. Penerapan dan pengembangan ‘asas pendidikan sepanjang hayat’ (life long education), sesuai dengan perkembangan ‘alamiah’ yang terjadi pada diri tiap orang.


Pendidikan sepanjang hayat, bukan hanya berlaku untuk peserta didik dan orang awam, melainkan juga untuk guru-pendidik, tokoh masyarakat, termasuk juga para pemimpin. Jika kita telah menerapkan dan menjadikan ‘asas pendidikan sepanjang hayat’ dalam hidup kita, segala fenomena yang terjadi dan kita alami baik fenomena alam, maupun fenomena sosial, budaya, ekonomi, politik dan seterusnya, menjadikan masukan pendidikan bagi kita semua yang memberdayakan diri masing-masing menjadi manusia yang berkualitas dalam arti yang seluas-luasnya (kesehatan, pikiran, akhlak).


2.2. Asas Kasih Sayang


Dalam proses dan kegiatan pendidikan, hubungan serta suasana yang kita kembangkan, dalam konteks ‘interaksi edukatif’, hubungan antara pendidik dengan peserta didik dibina dalam suasana kasih sayang yang terarah pada pembentukan kepribadian, dengan menanamkan nilai-nilai yang bermakna dalam kehidupan untuk hidup nyaman, aman, damai, dan sejahtera. Suasana dan hubungan kehidupan yang lebih luas, kita berpegang serta menerapkan asas-asas:





  • Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.




  • Berbakti kepada orang tua.




  • Menghormati orang yang lebih tua dan orang yang dituakan.




  • Menghargai sesama.




  • Menyayangi orang yang lebih muda.




2.3. Asas Demokrasi


Makna asas demokrasi dalam proses kegiatan pendidikan adalah agar peserta didik terbina untuk menjadi SDM yang demokratis sesuai dengan hak dan kewajibanya sebagai warga negara serta kedudukanya sebagai umat manusia yang beradab.


2.4. Asas Keterbukaan dan Transparansi


Pengembangan dan penerapan asas keterbukaan dan transparansi dalam proses serta kegiatan pendidikan, berarti bahwa program, kebijakan, dukungan, dan perangkat-perangkat lainya, harus didasari oleh kejujuran, tidak ada yang ditutupi, serta tidak ada kebohongan. Melalui pendidikan yang berasaskan keterbukaan dan transparansi, kita sangat mengharapkan terciptanya SDM yang jujur, yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, bangsa serta negara terutama di waktu-waktu mendatang.


2.5. Asas Tanggungjawab


Pengembangan dan penerapan asas tanggungjawab dalam proses kegiatan pendidikan, berarti materi, metode, strategi, pelaksanaan, sampai pada evaluasinya, harus dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan yang dilaksanakan secara demikian itu, diliputi oleh keyakinan akan mencapai tujuan menghasilkan peserta didik yang bertanggungjawab. Makn asas tanggung jawab dalam pendidikan adalah untuk menghasilkan SDM yang memiliki sifat dan sikap bertanggungjawab pada penampilan, perilaku, tindakan, serta perbuatanya.


2.6. Asas Kualitas


Dengan mengembangkan dan menerapkan asas kualitas pada proses kegiatan pendidikan, secara ideal kita mampu menciptakan SDM yang berkualitas, mulai kualitas jasmaniah (fisikal-biologis), keterampilan, etos kerja, intelektual, emosional, sosial, ekonomi, spiritual (agama), yang semua itu bermuara pada ‘kualitas’ iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang tercermin pada ‘kualitas akhlaknya’ dalam kehidupan sehari-hari sebagai manusia yang manusiawi.


Proses kegiatan pendidikan yang secara ideal bertujuan menciptakan SDM yang berkualitas juga harus berlandaskan asas kualitas dalam segala perangkat, kerja, dan kinerjanya. Pendidikan tersebut mulai dari perancangan, perencanaan, materi, media, metode, strategi, sampai pada evaluasinya harus berkualitas.


3. PANCA DARMA TAMAN SISWA


Pada Perguruan Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara (Djumhur, Danasupatra : 1976 : 174-176), mengembangkan lima asas dalam pendidikan yang dikonsepkan sebagai Panca Darma, yaitu:


3.1. Asas Kodrat Alam


Sesuai dengan kodratnya, manusia berbeda dengan makhluk hidup lainya, yaitu dikaruniai akal-pikiran yang berkembang dan dapat dikembangkan. Oleh karena itu, sesuai dengan kodratnya manusia dikategorikan sebagai makhluk budaya.


3.2. Asas Kemerdekaan


Proses kegiatan pendidikan yang berpegang pada asas kemerdekaan, berarti memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensinya menjadi kemampuan, dalam suasana yang penuh dengan tanggung jawab.


Pengembangan dan penerapan asas kemerdekaan pada proses kegiatan pendidikan, berarti membimbing peserta didik dengan penuh tanggung jawab tanpa tekanan, untuk menjadi SDM yang berkemampuan sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk budaya dan juga makhluk sosial.


3.3. Asas Kebudayaan


Dengan menerapkan asas kebudayaan , peserta didik dibimbing untuk menerima warisan generasi , namun juga didorong untuk memajukan kebudayaan tersebut sesuai dengan konstelasi global yang terus berkembang.


Melalui penerapan asas kebudayaan ini, peserta didik tetap menerima warisan budaya bangsa sendiri (local genius), namun juga dipacu untuk meningkatkan kemampuan budaya tersebut sesuai dengan kemajuan jaman. Dengan demikian SDM tersebut diberdayakan menjadi SDM yang selalu segar (evergreen), modern, terhindar dari keusangan sikap mental.


3.4. Asas Kebangsaan


Pengembangan dan penerapan asas kebangsaan pada proses kegiatan pendidikan di Indonesia, selain berdasarkan fakta, juga mendukung kebhinekaan atau kemajemukan yang menjadi salah satu ciri utama bangsa Indonesia.


Proses kegiatan pendidikan yang berasaskan kebangsaan, harus mampu menanamkan, meningkatkan rasa kebangsaan kepada peserta didik, untuk menjadi SDM yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.


3.5. Asas Kemanusiaan


Melalui penerapan asas kemanusiaan, peserta didik dibimbing menyadari harga dan martabat diri, serta nilai kemanusiaan yang secara kodrati melekat pada manusia dengan kehidupanya selaku umat yang sederajat atau sama di hadapan Tuhan. Dengan menerapkan asas kemanusiaan tersebut, peserta didik tidak hanya dikembangkan nalar emosionalnya, melainkan juga dibina nalar spiritualnya selaku umat. Oleh karena itu asas kemanusiaan berkedudukan strategis dalam proses kegiatan pendidikan untuk menciptakan SDM yang manusiawi dan religius.


4. MAKNA PENDIDIKAN MEMBERDAYAKAN SUMBER DAYA MANUSIA


4.1. Makna Pemberdayaan


Pemberdayaan (empowerment) terarah pada upaya memberikan kebebasan kepada seseorang, memiliki tanggung jawab pengembangan pribadi, yang meliputi kemampuan berpikir mengembangkan gagasan, melakukan tindakan, sampai pada membuat keputusan. Namun demikian kebebasan tersebut tidak lepas dari tanggungjawab.


Dalam proses pemberdayaan diri, terutama diri peserta didik, harus berpijak pada realita, peserta didik harus benar-benar dibuka matanya, untuk mampu menghayati realita kehidupan hari ini, dan hari-hari mendatang. Oleh karena itu sifat dan sikap ksatria, jujur, dan berani harus terus dipupuk dan dikembangkan. Melalui proses pemberdayaan ini, visinya harus diperjelas. SDM yang akan datang harus memiliki wawasan / visi yang luas kedepan, untuk mengantisipasi realita yang dihadapi seburuk apapun. Dengan menjalani kehidupan yang penuh resiko dan persaingan kita harus melakukan kerjasama dengan berbagai pihak. Adanya orang lain di sekitar kita, memiliki makna sosial yang harus diberdayakan.


4.2. Pendidikan Sebagai Proses Pemberdayaan


Ketidakberdayaan individu dan juga kelompok, terletak pada keterbelengguanya dalam aspek-aspek sosial budaya (kebodohan), sosial ekonomi (kemiskinan), sosial psikologi (harga diri), dan sosial politik (perbudakan). Individu atau masyarakat yang terbelenggu oleh kondisi hidup yang demikian ada dalam kekakuan hidup yang memperburuk kehidupanya. Oleh karena itu, untuk memberdayakan mereka, Paulo Freire (1984) mengembangkan konsep pendidikan pembebasan. Pendidikan pembebasan ini dilakukan dalam situasi yang dialogis dan kasih sayang. Melalui penciptaan suasana yang demikian, kekakuan dapat terpecahkan, sehingga peserta didik sebagai salah satu subjek pendidikan secara bertahap dapat memberdayakan diri.


Pendidikan sebagai perekayasaan manusia, proses kegiatanya diarahkan pada pengembangan kreatifitas, sadar IPTEK, setia kawan, dan modern. Melalui pendidikan kualitas SDM makin ditingkatkan.


 

 
readmore »
0
HAKEKAT MANUSIA DAN PENGEMBANGANNYA |

   Sasaran Pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembngkan potensi-potensi kemanusiannya. Manusia memiliki cirri khas yang secara prinsipil berbeda dengan hewan. Ciri khas manusia yang membedakannya dari hewan terbentuk dari kumpulan terpadu dari apa yang disebut sifat hakikat manusia. Diseut hakikat sifat manusia karenasecara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan.


     Pemahaman pendidik terhadap sifat hakikat manusia akan membentuk peta tentang karateristik manusia. Peta ini akan menjadi landasan serta memberikan acuan baginya dalam bersikap, menyusun strategi, metode, dan tehnik, serta memilih pendekatan dan orentasidalam merancangdan melaksanakan komunikasitransaksionaldi dalam transaksi edukatif. Peta ini juga akan menjadi landasan karena adanya perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini, lebih-lebih pada masa mendatang.




  • SIFAT HAKIKAT MANUSIA


          Sifat hakikat manusia menjadi bidang kajian filsafat, khususnya filsafat antropologi. Hal ini menjadi keharusan oleh karena pendidikan bukanlah soal sekedar praktek melainkan praktek yang berlandasan dan bertujuan. Sedangkan landasan dan tujuan pendidikan itu sendiri sifatnya filosofis normatife. Filosofis karena untuk mendapatkan landasan yang kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis, dan universal tentang hakikat manusia.


1.      Pengertian Sifat Hakikat Manusia diartikan sebagai cirri-ciri karateristik yang prinsipil yang membedakan manusia dan hewan.


2.      Wujud Sifat Hakikat Manusia yaitu meliputi :

a)     Kemampuan menyadari diri

b)     Kemampuan bereksistensi

c)      Pemilikan kata hati

d)     Moral

e)     Kemampuan bertanggung jawab

f)        Rasa kebebasan

g)     Kesediaan melakukan kewajiban dan menyadari hak

h)      Kemampuan menghayati kebahagiaan

a.Kemampuan menyadari diri


          Kaum Rasionalis menunjuk kunci perbedaan manusia dengan hewan pada adnya kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia, maka manusia menyadari bahwa dirinya memiliki cirri khas atau karateristik.


b.Kemampuan bereksistensi


          Dengan keluar dari dirinya, dan dengan membuat jarak antara aku dengan dirinyasebagai objek, lalu melihat objek itu sebagai sesuatu, berarti manusia itu dapat menembus atau menerobos dan mengatasi batas-batas yang membelenggu dirinya. Kemampuan menerobos ini bukan saja soal ruang, melainkan juga dengan waktu. Kemampuan menempatkan diri dan menerobos inilah yang disebut kemampuan bereksistensi.


c.Kata hati


            Kata hati atau conscieice of Man juga serung disebut dengan istilah hati nurani, lubuk hati, pelita hati, dan sebagainya. Manusia memiliki pengertian yang menyertai tentang ap yang akan, yang sedang, dan yang telah dibuatnya. Bahkan mengerti juga akibatnya baik atau buruk bagi manusia sebagai manusia.


d.Moral


            Jika kata hati dikatakan sebagai bentuk pengertian yang menyertai perbuatan, maka yang dimaksud dengan moral adlah perbuatan itu sendiri. Di sini masih tampak bahwa masih ada jarak antar kata hati dengan moral. Artinya seseorang yang telah memiliki kata hati yang tajam belum otomatis perbuatannya merupakan realisasi dari kata hatinya itu. Untuk menjembatanijarak yang mengantarai keduanya masih ada aspek yang diperlukan yaitu kemauan.


e.Tanggung jawab


            Kesediaan untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang menuntut jawab, merupakan pertanda dari sifat orang yang bertanggung jawab. Wujud bertanggung jawab ada bermacam-macam, ada bertanggung jawab pada diri sendiri, masyarakat, dan kepada Tuhan.


f.Rasa kebebasan


            Merdeka adalah rasa bebas tidak merasa terikat oleh sesuatu tetapi sesuai denagn tuntutan kodrat manusia. Dalam pernyataan ini ada dua hal yang kelihatannya saling bertentangan yaitu “rasa bebas” dan “sesuai dengan tuntutan kodrat manusia” yang berarti ada ikatan.


g.Kewajiban dan Hak


            Kewajiban dan hak adalah dua macam gejala yang timbul sebagai manifestasi dari manusia sebagai mahluk sosial.Tak ada hak tanpa kewajiban. Jika seseorang mempunyai hak untuk menuntut sesuatu maka tentu ada kewajiban yang harus dipenuhi terlebih dahulu yang pada saat itu belum di penuhi. Dalam relitas hidup sehari-hari umumnya hak diasosiasikan dengan sesuatu yang menyenangkan, sedangkan kewajiban di pndang sebagai sesuatu beban. Benarkah kewajiban menjadi beban bagi manusia ?. ternyata bukan beban melainkan suatu keniscayaan. Artunya selama orang itu menyebut diriny manusia dan mau dipandang sebagai manusia, maka kewajiban itu menjadi keniscayaan baginya.


h.Kemampuan menghayati kebahagiaan


            Kebahagiaan adalah suatu istilah yang lahir dari kehidupan manusia. Ambillah missal tentang sebutan senang, gembira, baahagia, dan sejumlah istilah lain yang mirip dengan itu. Sebagian orang mungkin menganggap bahwa seseorang yang sedangmengalami rasa senang atau gembira itulah sedang mengalami kebahagiaan. Maka kita bisa menyimpulkan bahwa kebahagiaan itu rupanya tdk terletak pada keadaannya sendiri secara factual atuapun pada rangkaian prosesnya tetapi terletak pada kesanggupannya menghayati semua itu dengan keheningan jiwa, dan menundukan suatu hal di dalam rangkaian atau ikatan tiga hal yaitu : usah, norma-norma dan takdir. Usaha adalah perjuangan yang terus menerus untuk mengatasi masalah hidup. Selanjutnya usaha tersebut harus bertumpu ada norma-norma dan kaidah-kaidah. Kemudian takdir merupakan rangkaian yang terpisah dalam proses terjadinya kebahagiaan. Komponen takdir ini erat bertalian dengan komponen usaha.




  • PENGEMBANGAN MANUSIA


Seperti telah berulangkali dikatakan sasaran pendidikan adalah manusia sehingga dengan sendirinya pengembangan manusia menjadi tugas pendidikan. Manusia lahir telah dikarunia hakikatmanusia tetapi masih dalam potensi, belum teraktualisasi menjadi wujud kenyataan atau aktualisasi. Dari kondisi potensi menjadi wujud aktualisasi terdapat rentangan proses yang mengundang pendidikan untuk berperan dalam nenberikan jasanya. Meskipun pendidikn pada dasarnya adalah baik tetapi dalam pelaksanaannya mungkin saja bisa terjadi kesalahan yang lazimnya disebut salah didik. Sehubung dengan itu ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu :





  1. Pengembangan yang utuh




   Tingkat keutuhan perkembangan hakikat manusia dinentukan oleh dua factor yaitu kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas pendidikan yang disediakan untuk member pelayanan atas perkembangannya.


2.   Pengembangan yang tidak utuh

Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensi hakikat manusia akan terjadi di dalam proses pengembangan jika ada unsur dimensi manusia yang terabaikan untuk ditangani. Pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya kepribadian yang pincang dan tdk mantap, dan yang semacam ini disebut pengembangan patologis.




  •    Manusia berpendidikan


Manusia berpendidikan (educated man) banyak kali diartikan sebagai manusia yang telah berkembang kemampuan intelektualnya karena pendidikan atau sekolah. Ada yang mengatakan bahwa manusia itu adalah sejarah yang mempunyai masa lalu, masa kini, dan cita-cita da masa depan. Oleh sebab itu manusia bukanlah suatu dictum atau suatu titikyang telah menjadi dan telah sempurna, tetapi sesuati yang terus manjadi.


Apakah sebenarnya tujuan pendidikan itu ?. Dari persepsi kita mengenai konsep manusia,marilah kita lihat beberapa rumusan tujuan pendidikan dari berbagai pakar.


1.   John Dewey, pakar pendidikan dari filosifi, merumuskan pendidikan secara pragmatis ialah “education to promote growth” yaitu proses pendidikan ialah suatu proses untuk memperoleh kemampuan dan kebiasaan berpikir sebagai suatu kegiatan yang inteligen atau yang ilmiah dalam memecahkan berbagai masalah di dalam kehidupan. Denagan demikian tujuan pendidikan bukanlah untuk mengumpulkan atau menguasai ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan itu untuk bertindak secera inteligen di dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan.


2.   Whitehead,menekankan tujuan pendidikan itu di dalam kaitannya dengan kehidupan. Dia mengatakan “there is only one subject matter fir education and that is life in all mani festation” yaitu penguasaan ilmu pengetahuan bukan bertujuan demi untuk menguasai atau dimiliki secara verbalistis tetapi ditekankan kepada bagaimana pemanfaatanny untuk kehidupan .


3.   Bagi seoranga pakar yang religious seperti Jasques Maritain berpendapat bahwa pengertian mengenai hakikat manusia akan melahirkan pengertian mangenai tujuan pendidikan. Dan selanjutnya tujuan pendidikan itu akan mengarahkan kemampuan-kemampuan di dalam diri peserta didik yang harus dikembangkan.


Dari rumusan-rumusan Dewey, Whitehead, Maritain dapat disimpulkan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan berbagai kemampuan, kebiasaan, ilmu pengetahuan, tingkah laku, yang diperlukan di kehidupan nyata.




  • Manusia Berbudaya


   Seorang yang disebut berbudaya adalah seorang yang menguasai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai etis dan moral yang hidup di dalam kebudayaan tersebut . Seseorang dapat saja berpendidikan luas dan tinggi tetapi hidupnya tidak bermoral. Dalam hal ini orang tersebut berpendidikan tapi tidak berbudaya.


  Menurut peters, seorang terpelajar adalah seorang yang “knowledgeable”. Seorang yang berpengetahuan luas (knowledgeable) belum tentu seorang yang terpelajar oleh karena apa yang dilihatnyaperlu ditransformasikan dalam apa yang diketahuinya mengenai keseluruhan kehidupan.





 




readmore »
0
MULTIPLE INTELEGENT |

   Cepat tidaknya seseorang dalam memecahkan suatu masalah tergantung pada kemampuan intelegensi (kecerdasan) orang tersebut. Berikut definisi intelegensi menurut beberapa pakar psikologi:


    Edourd Claperede (1873-1940) seorang pakar pendidikan Perancis dan William Stern (1871-1938), seorang pakar psikologi Jerman, penemu konsep IQ, mendefinisikan “intelegensi adalah penyesuaian diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru” (dalam Piaget 1959). Di lain pihak Karl Buhler (1879-1963) pakar psikologi Gestalt memberi definisi intelegensi adalah “perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian.” (dalam Bugental, Wegrocki, Murphy, Thomae, 1966).


Sedangkan Alfred Binet (1857-1911) psikologi Prancis, salah satu penemu pertama alat ukur intelegensi, menggambarkan intelegensi sebagai: “ penilaian, atau disebut juga akal yang baik (good sense), berpikir praktis (practical sense), inisiatif, kemampuan untuk menyesuaikan diri sendiri kepada keadaan…kritik pada diri sendiri (auto-critique).” Sementara David Wechsler (1896-1981) psikolog Amerika yang membuat alat pengukur IQ menyatakan intelegensi adalah: “…sekumpulan atau keseluruhan kemampuan (capacity) individual untuk bertindak dengan tujuan, berpikir secara rasional dan berurusan secara efektif dengan lingkungannya.”


Pada tahun 1990-an beberapa pakar mencoba bersepakat mengenai apakah yang dimaksud dengan intelegensi itu, masih terdapat 2 kelompok definisi yaitu kelompok peneliti intelegensi Mainstream Science on Intelegence (MSI) 1994, dan American Psychological Association (APA) 1995.


Menurut versi Mainstream Science on Intelegence (MSI) intelegensi adalah “… suatu kemampuan mental yang sangat umum yang antara lain melibatkan kemampuan akal, merencana, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami ide-ide yang kompleks, cepat belajar, dan belajar dari pengalaman”. Jadi intelegensi versi MSI ini merujuk kepada factor “G” (general/umum) dari intelegensi.


Versi APA 1995 tidak memberikan definisi, tetapi hanya menyebutkan tentang perbedaan antarindividu dalam memahami sesuatu (ide, lingkungan, masalah dan sebagainya), hal yang menyebabkan perbedaan antarindividu itulah yang disebut intelegensia. Dengan demikian versi APA ini lebih mngutamakan factor “S” (specific, special/khusus) dari intelegensi.




  • Ciri-ciri Perbuatan Intelegensi


Suatu perbuatan dianggap intelegen bila memenuhi beberapa syarat antara lain;





  1. Masalah yang dihadapai merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan




  2. Perbuatan intelegen sifatnya mengacu pada tujuan dan ekonomis.




  3. Masalah yang dihadapi harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan.




  4. Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat.




  5. Dalam berbuat intelegen seringkali menggunakan daya mengabstraksi.




  6. Bercirikan kecepatan.




  7. Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi.





  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi Seseorang


Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi , sehingga terdapat perbedaan intelegensi seseorang dengan yang lain adalah;





  1. Pembawaan: pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri sejak lahir. Batas kesanggupan seseorang dalam memecahkan permasalahan pertama-tama ditentukan oleh pemabawaan kita. Seseorang ada yang pintar dan ada yang kurang pintar.




  2. Kematangan: kematangan disini menyangkut pertumbuhan dan perkembangan tiap organ fisik maupun psikis pada tubuh manusia. Kematangan berhubungan erat dengan umur.




  3. Pembentukan: yaitu segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.




  4. Minat: Minat mengarahkan perbuatan pada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Sesuatu yang menarik minat seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.




  5. Kebebasan: kebebasan berarti bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih metode-metode tertentu dalam memecahkan masalah.





  •  Perkembangan Tes Intelegensi


a. Perkembangan Tes Intelegensi pada umumnya:





  • Fase persiapan: fase dimana para ahli berusahamendapatkan tes intelegensi, berlangsung kira-kira sampai tahun 1915.




  • Fase kedua (1915-1935): fase naif yaitu fase dimana orang menggunakan tes intelegensi yang telah tersusun tanpa kritik.




  • Fase ketiga (1935-1950): fase mencari tes yang bebas dari pengaruh kebudayaan (culture free test).




  • Fase kritis (1950 - sekarang).




b. Perkembangan tes intelegensi model Binet.


Intelegensi seseorang dapat diukur dengan Tes Intelegensi, yang ditemukan oleh seorang dokter berbangsa Perancis, Alfred Binet dan Simon. Sehingga tesnya dikenal dengan nama Tes Binet–Simon. Hasil tes pertama kali dikeluarkan pada tahun 1905. Rumusan pengukuran IQ tersebut adalah;


IQ = (Mental Age [MA] :Chronological Age [CA] x 100


Keterangan:


MA = Mental Age (Usia mental / kecerdasan / usia psikologi )


CA = Chronological Age (Usia Kronologis / Usia Kalender)


100 = Angka konstan untuk menghindari bilangan desimal


Namun teknik menghitung IQ diatas hanya dapat dilakukan pada anak-anak.


c. Tes Wechsler


Tes ini disusun untuk orang dewasa, dengan menggunakan skala nilai. Tes Wechsler ini mula-mula diterbitkan pada tahun 1939 dengan nama Wechsler Bellevue Intelligence Scale (disingkat: W-B).


Saat ini pengukuran intelegensi untuk orang dewasa dilakukan dengan alat-alat psikodiagnostik (psikometri), yang biasanya dikenal dengan psikotes, yaitu serangkaian daftar pertanyaan dan tugas (disebut “batere tes”) untuk mengukur aneka kemampuan, mulai dari analisis verbal sampai dengan logika numeric. Alat-alat psikometri klasik antara lain dikembangkan oleh Wechsler & Bellevue, Stanford & Binnet, dan Terman & Merril. Tes-tes klasik ini menggunakan gabungan teori factor “G” dan “S”.


Tabel penggolongan manusia atas dasar IQ nya (Woodworth dan Markuis 1955, p. 54)


diatas 140 luar biasa, genius

120 – 139 cerdas sekali, very superior

110 – 119 cerdas, superior

90 - 109 sedang, average

80 – 89 bodoh, dull average

70 – 79 anak pada batas, border line

50 – 69 debil, moron

30 – 49 ambisil, embicile

Di bawah 30 idiot.

Pada abad 20 muncul teori, bahwa inteligensi tidak hanya memandang kemampuan kognitif, tapi kemampuan lain yang mampu memecahkan masalah. Muncullah teori :


Emosional inteligensi (Emotional Quotient, EQ)


Spiritual inteligensi (Spiritual Intelegence, SQ)




Kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan akal (Intelligence Quotient, IQ), padahal diperlukan pula bagaimana mengembangkan kecerdasan emosi (Emotional Quotient, EQ) seperti: ketangguhan, inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi. Sederhananya EQ adalah kemampuan untuk merasa. Kunci kecerdasan emosi adalah pada kejujuran suara hati. Suara hati itulah yang seharusnya digunakan pusat prinsip yang mampu memberi rasa aman, pedoman, kekuatan serta kebijaksanaan.




Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita (Danah Zohar dan Ian Marshall, “SQ: Spiritual Intelegence”, Bloomsburry, Great Britain).




  •  Perkembangan Intelegensi


Perkembangan intelegensi terutama terjadi pada masa kanak-kanak, perubahan itu berlangsung dengan cepat sampai umur 13 atau 15 tahun, dan setelah itu berlangsung dengan lambat.


Daftar Pustaka:


Agustian, Ary Ginanjar, ESQ Emotional Spiritual Quotient, Cetakan ketigapuluh satu, Penerbit Arga, Jakarta, 2006


Ngalim Purwanto, Drs., Psikologi Pendidikan , Cetakan keduapuluh, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004


Saifudin Azwar, Drs., Psikologi Intelegensia, Cetakan ketiga, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002


Sumadi Suryabrata, Drs., Psikologi Pendidikan, Cetakan ketiga belas, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2005


Tuhan


Spiritual


 

SQ (God Spot)


IQ EQ

readmore »
3
GOD SPOT |

Kecerdasan spiritual (spiritual Quotient), pertama kali digagas oleh Danah Zohar dari Harvard University dan Ian Marshall dari Oxford University. Pembuktian temuan mereka secara ilmiah oleh Michael Persinger awal 1990-an dan oleh VS Rama Chandran dan tim-nya dari California University, yang menemukan eksistensi God Spot (Tiktik Tuhan) dalam otak manusia. God Spot sudah built-in sebagai pusat spiritual yang terletak pada jaringan syaraf otak.


God Spot terletak di antara hubungan syaraf dalam cuping-cuping temporal otak, melalui pengamatan terhadap otak dengan topografi emisi, posisi pada daerah syaraf tersebut akan bersinar apa bila subyek penelitian diarahkan untuk mendiskusikan spriritual atau agama. Rekasinya berbeda-beda dan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. (orang barat menyebut God, Islam menyebut Allah, dan lain-lain), aktifitas cuping temporal ini selama bertahun-tahun dikaitkan dengan penampakan mistis para penderita epilepsi dan pengguna obat LSD. Penelitian Ramachandran adalah penelitian yang pertama kali menunjukkan bahwa cuping itu juga aktif pada orang normal. God Spot tidak membuktikan adanya Tuhan, tetapi menunjukkan otak telah berkembang untuk menanyakan kegunaan dan makna kepemilikannya?


Pembuktian oleh ahli syarf Austria, Wolf Singer pada era 1990-an atas the binding problem, yang menununjukkan ada proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita, suatu jaringan syaraf yang secara literal "mengikat" perjalanan kita secara bersama untuk hidup "agar lebih hidup" (baca : bermakna). Pada God spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia.


Sayangnya penelitian diatas belum mapu menjangkau ketuhanan. Pembahasannya baru sebatas tataran biology atau psikologi semata, karena tidak bersifat transendental, temuan mereka baru sebatas hardware saja (spititual centre pada otak manusia), belum ada softwarenya. Jadi model ESQ (emotion SQ) adalah Soft ware atau isi dari God spot atau spiritual centre secara transendental.


Ary ginanjar Agustian mencoba mengurai temuan Danah Zohar diatas dalam versi Islam, dalam bukunya Rahasia Sukses Membangun ESQ membeberkan bahwa God Spot atau fitrah adalah alam fikir yang jernih dan suci melalui hati dan fikiran yang bersifat merdeka serta bebas dari belenggu fikiran (zero mind process). Dengan kata lain Ary menyebut God Spot secara singkat adalah fitrah atau suara hati.


Jadi jelas sekali berdasarkan hasil penelitian tersebut, bahwa penampakan gaib (mistis) bisa terjadi pada penderita epilepsi dan penggunaan obat LSD, hal tersebut bisa juga terjadi kepada orang yang kehabisan oksigen pada otaknya, tetapi peristiwa mistis pada orang yang mengalami sakit mental/jiwa berbeda dengan orang sadar dan sengaja mencapai zero mind atau keadaan ujung dari pemikiran.


Aplikasi Zero Mind dalam Islam


Banyak cara mencapai zero mind melalui meditasi, mengulang mantra, wirid sampai menafikkan tubuhnya, intinya untuk meninggalkan kesadaran fisik dan dinaikkan kesadarannya dengan cara mengabaikan aktifitas fisik. Dengan demikian jiwa berada dalam keadaan lebih tinggi dari pada kesadaran fisik yang terbatas oleh tangan, fikiran dan indrawi lainnya.


Islam melarang menggunakan obyek fikiran dengan media benda (makhluk), karena akan menyebabkan tersesat atau salah jalan kepada hakikat ketuhanan yaitu kepada Dzat yang tidak bisa dibayangkan oleh fikiran, rasa, maupun hati. Kalau jiwa ditujukan kepada Yang Tak Terjangkau maka akan terbebas dari pengaruh alam maupun makhluk ciptaan, karena itu tujulah Sang Kreator... yaitu Dzat Yang Maha Mutlak.


God Spot (Titik Tuhan)


"Sesungguhnya orang - orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat - ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal."(Al Anfaal: 2).


"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat ayatnya) lagi berulang ulang, gemetarlah karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun."(Az Zumar:23)


Dilihat dari ayat itu ternyata yang namanya God spot itu tidak hanya dari otak saja tapi dari seluruh tubuh, otak itu hanya perangsang saja mulai dari otak menyebar ke seluruh tubuh sampai bergetar kulit kulit arinya. Hubungannya, setiap manusia mempunyai DNA yang dimana DNA manusia tersebut bergetar bergerak dan apabila kita dengarkan dengan alat yang sensitif sekali maka akan terdengar bunyi dan bunyinya itu seperti zikir, seperti apabila kita berdzikir suaranya akan cenderung monoton dan ternyata seluruh anggota tubuh kita itu berdzikir dan mereka itu betul - betul mengikuti perintah Allah, contoh yang sederhana adalah jantung, apakah kita itu dapat mengendalikan jantung mungkin dengan teknik tertentu bisa tapi kalau kata orang normal kalau di hentikan bisa mati karena tidak ada suplai oksigen ke otak. Kemudian pergerakan selnya itu bergerak seperti tali dan apabila kita dengarkan mereka itu berdzikir dengan cara mereka sendiri ada yang bilang seperti musik klasik ada yang bilang seperti rock. Saya pernah punya pasien yang apabila tubuhnya capai akan berbunyi seperti musik klasik dan ternyata kulit tubuh akan merekam dan ternyata god spot itu tidak hanya satu titik di otak tubuh tapi di seluruh tubuh orang bilang god spot itu hanya di otak karena otak itu berfungsi hanya 2,5 persen jika yang aktif 100 persen maka orang itu tidak akan seperti sekarang.


Allah menciptakan manusia itu sempurna apabila sel otak manusia itu aktif bayangkan ketika Nabi Adam As diberi ilmu pengetahuan oleh Allah sehingga malaikat itu "minder" (Q.S. Al Baqarah 30-33) dan apabila kapasitas sel otak manusia aktif semua bukan mustahil, tidak ada rahasia alam yang rahasia lagi, semua bakal terkuak dan rahasia petunjuk Al Qur'an pun akan terkuak. Bagaimana caranya kita mengaktifkan sel otak itu dan mungkin kita bahas nanti alatnya, mengaktifkan sel otak manusia secara alami.


Kecenderungan sifat manusia adalah mencari kesenangan padahal manusia di ciptakan untuk ibadah (Q.S. Adz Dzariyat 56) dan kadang - kadang manusia lupa, sehingga cenderung berpendapat jika ibadah itu mesti senang padahal yang namanya kemajuan itu didapatkan dengan susah tidak pernah didapat dengan kesenangan, padahal namanya kemajuan harus melewati gemblengan, latihan sulit dan kesusahan. Manusia cenderung sering memanjakan tubuhnya sehingga membuat sel otak menjadi aktif semakin sulit. Ada dengan cara latihan ini dan itu tapi akhirnya mereka jenuh...dan tidak berkembang.


Wajilat kulubuhum yang artinya merinding, pada jaringan kulit pun ada yang merinding, disurat Az Zumar 23 yang dimaksud dengan kulit - kulit yang takut dengan Tuhannya, orang orang yang tidak takut dengan Tuhannya mungkin tidak peduli dibaca ayat Al Qur'an tidak peduli. Dan di setiap tubuh ada god spot, walaupun di orang atheis kecenderungan manusia untuk mencari yang lebih superior mencari pegangan mencari mahluk yang lebih kuat dari dirinya mencari kekuatan yang lebih dari dirinya mencari yang menciptakan dirinya dan hal ini yang menyebabkan adanya animisme dan dinamisme bahwa itu membuktikan mereka mencari Tuhan. Dan yang namanya mencari Allah itu itu sebetulnya setiap otak itu sudah memprogramkan, ada kerinduan kepada sang khalik dan pada dasarnya setiap menusia itu mencari perlindungan apapun itu yang melindungi dan membuat mereka selamat apapun agamanya.


Dan Allah itu lebih dekat dibanding dengan urat leher (Q.S. Qaf 16), tapi jangan diartikan bahwa dirinya tuhan, seperti syech siti jenar dan karena Allah telah berfirman begitu, jadi otomatis manusia selalu mencari tuhan itu, karena bingung maka mereka menjadikan matahari sebagai Tuhan (dewa Ra) benda benda mati sebagai Tuhan. Al Qur'an juga menceritakan Nabi Ibrahim as ketika proses mencari Tuhan (Q.S. Al Anam 75-79) ketika melihat bulan dianggap inilah Tuhan ternyata hilang ketika matahari inilah Tuhan dan ternyata tenggelam fitrah manusia untuk mencari Tuhan tapi mereka tidak sadar karena kepentingan kepentingan mereka sampai untuk Tuhanpun penilaian kitapun untung rugi, Tuhan menguntungkan tetapi ketika diberi cobaan ah ternyata tuhan itu merugikan, setelah kita mengenal konsep Tuhan jadi menganggap tuhan itu sesuatu menguntungkan padahal Tuhan memberikan cobaan itu sebagai ujian tetapi kita tidak menganggap itu sebagai cobaan tetapi sebagai azab, nah inilah yang bahaya, setan masuk disini. Dan oleh sebab itu pada awal ayat di awali dengan wahai orang orang yang beriman, awalnya harus didahului dengan iman dan iman pun bukan hanya percaya/yakin saja tetapi juga secara mendalam sampai dasar dasarnya sampai seluruh tubuhpun mengakui keberadaan Tuhan.


Kembali lagi ke surat Az Zumar 23 kulit orang orang yang takut pada Tuhannya, kulit itu terdiri dari apa saja berarti kita harus memikirkan secara mendalam, kalau kita lihat kulit ari ari kita, kita akan tahu dalamnya bahwa kulit ari itu terdiri dari partikel partikel yang saling bergerak yang bersujud Allah kalau kita bisa sampai saja teknologi kitapun bisa makin canggih. Proses penuaan terjadi karena ada kerusakan pada sel mitokondria, kalau sel mitokondria rusak dan adanya radikal bebas dan itu bisa dicegah dengan membuat antioksidan sehingga teknologi makin canggih dan umur manusia itu bisa panjang dan awet muda makanya, orang jaman dahulu umur panjang kulitnya awet muda karena proses mutasi pada sel kulit berjalan lambat karena didukung oleh atmosfer tetapi karena sekarang atmosfer semakin tipis sehingga mutasi semakin cepat. Dan kalau kulit orang sampai bergetar mendengar ayat ayat Allah itu jelas bagi orang orang yang beriman mendengarkan ayat ayat Allah menggetarkan titik Tuhan yang ada di otaknya karena titik otak itu bergetar karena ada kesatuan antara otak dan seluruh tubuh maka seluruh tubuh pun bergetar berarti dapat ditarik kesimpulan kalau seluruh tubuh itu god spot. God spot Allah itu ada di tubuh manusia ditiupkan ruh-Ku (QS Shad 72) berarti ruh itu unsur Allah.


Selamat Membaca Semoga Bermanfaat ^^



 
readmore »
0
HUMOR SEBAGAI METODE MENGAJAR (PERSPEKTIF HADITS) | Pada dasarnya guru adalah seorang pendidik. Pendidik adalah orang dewasa dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk dapat mengubah psikis dan pola pikir anak didiknya dari tidak tahu menjadi tahu serta mendewasakan anak didiknya. Salah satu hal yang harus dilakukan oleh guru adalah dengan mengajar di kelas. Salah satu yang paling penting adalah performance guru di kelas. Bagaimana seorang guru dapat menguasai keadaan kelas sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian guru harus menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya.

Tiap-tiap kelas bisa kemungkinan menggunakan metode pembelajaran  yang berbeda dengan kelas lain. Untuk itu seorang guru harus mampu menerapkan berbagai metode pembelajaran. Disini saya akan memaparkan salah satu metode pembelajaran dengan Humor, atau lebih tepatnya lagi "Humor Sebagai Metode Mengajar". Silahkan DOWNLOAD Disini
readmore »